Sejarah dan Budaya Bali

Meskipun ada kontroversi tentang sejarah prasejarah Bali, ada banyak bukti budaya megalitik yang berkembang dengan baik. Namun, dokumentasi yang baik tentang budaya Bali tidak mulai muncul sampai abad ke-8 atau ke-9. Pada titik ini, orang Bali sudah mulai mempraktikkan berbagai bentuk agama Buddha yang diimpor dari India, dan ada bukti pengaruh Hindu. Dari abad ke-10 hingga abad ke-11, agama Hindu terus menyatu dengan adat setempat. Melalui pernikahan campuran, budaya Jawa mulai menembus kehidupan istana kerajaan, dan kemudian menyebar ke desa-desa.

Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menaklukkan Bali pada abad ke-14. (Majapahit memperkenalkan sistem kasta di Bali, di mana mereka berada di atas, dan penduduk asli pulau di bagian bawah.) Pada awal abad ke-16, Bali telah menjadi tempat perlindungan bagi umat Hindu, diusir dari Jawa yang semakin terislamisasi. Ketika kerajaan Majapahit runtuh, sejumlah besar bangsawan dan pengrajin Jawa datang ke Bali.

Kekayaan rempah-rempah, permata, emas, dan barang-barang eksotis lainnya di Indonesia telah menarik para pedagang selama berabad-abad. Pulau-pulau di kepulauan Indonesia adalah titik arah alami pada rute perdagangan antara Timur Tengah, India dan Cina. Orang Bali tidak pernah menjadi pelaut yang aktif. Mereka adalah orang Cina, India, Arab, Melayu, Jawa, dan Bungan, yang berlayar di sepanjang rute perdagangan. Belakangan muncul Portugis, Inggris dan Belanda.

Bali tidak memiliki pelabuhan yang dilindungi secara alami, dan garis pantainya sangat berbahaya. Banyak desa pesisir yang secara teratur mendapat untung dengan merampok kapal karam. Salah satu insiden tersebut memicu invasi Belanda pada tahun 1906, yang relatif terlambat dalam 300 tahun pemerintahan kolonial di Indonesia. Meskipun penaklukan berdarah, budaya Bali relatif tenang selama sebagian besar pendudukan Belanda, sebagian karena Singaraja, di utara pulau itu, adalah satu-satunya tempat kapal bisa berlabuh dalam relatif aman, dan perjalanan di dalam pulau itu sulit. Kapal-kapal dari seluruh Asia Tenggara berhenti bertukar barang di Singaraja, tetapi sebagian besar, sebelum kedatangan pesawat, hanya penduduk bagian utara pulau yang secara langsung dipengaruhi oleh pengaruh asing. Namun, Belanda secara aktif mengeksploitasi pulau itu, memompa sumber daya yang diperlukan melalui sistem yang efisien dan cerdas yang menggunakan aristokrasi lokal untuk melaksanakan instruksi mereka. Setelah Belanda, Bali selamat dari era pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, dan kemudian menjadi bagian dari Indonesia merdeka. Di bawah Presiden Sukarno dan Suharto, loyalitas politik terus mengubah keseimbangan kekuasaan. Secara teknis, aristokrasi dan para Brahmana (kasta imam) tidak lagi "memerintah", tetapi dalam praktiknya mereka masih menikmati kekuatan dan hak istimewa yang besar.

Kedatangan wisatawan, industri ekspor, dan teknologi selama beberapa dekade terakhir memiliki banyak efek yang mudah diamati. Orang Bali biasanya mengenakan pakaian Barat, mereka mengirim faks, mengaum di jalanan dengan sepeda motor dan menonton TV. Tetapi perubahan seperti itu bisa menyesatkan.

Di bawah permukaan

Realitas Bali jauh lebih luas daripada yang disadari oleh kesadaran Barat. Orang Bali memiliki kata "sekala", yang berarti apa yang dapat Anda rasakan dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, atau sentuhan Anda. Ada kata lain, "niskala", untuk "apa yang tidak bisa dirasakan secara langsung, tetapi itu hanya bisa dirasakan di dalam". Di Barat, kita hanya mengenali fenomena secal sebagai "nyata", tetapi di Bali mereka tidak membedakan keduanya.

Kekuatan mistik, baik yang jahat maupun baik, menempati tempat sentral dalam kehidupan orang Bali. Ritual dan upacara Hindu-Bali utama terkait dengan menjaga keseimbangan antara kekuatan positif dan negatif. Iblis dan penyihir, yang disebut leyaks, bukanlah makhluk dari dongeng, tetapi mereka mewakili ancaman umum dan berbahaya, yang harus dijaga setiap orang. Objek dan tempat yang dianggap mati di Barat dapat diisi dengan kekuatan mistik dan karenanya sangat hidup untuk orang Bali. Karena alasan ini, mereka mempersembahkan banyak benda, termasuk alat yang digunakan untuk membuat manik-manik perak, dan bangunan tempat para pria perak bekerja. Arah, angka, dan tanggal dapat ditetapkan sebagai "Cossactian," yang berarti "kekuatan magis." Setiap acara harus dilakukan dengan hati-hati, dan orang Bali sering berkonsultasi dengan otoritas agama mengenai tanggal yang cocok untuk acara-acara penting. Orang Bali juga menerima kenyataan ganda, sesuatu mungkin benar, tetapi tidak benar, dan dalam keadaan tertentu mereka menolak waktu linier.

==

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *