Mengapa orangutan itu terancam punah?

Orangutan dengan bulu merah-coklat yang khas telah menjadi ikon konservasi, dan gambar di seluruh dunia digunakan untuk menerangi ancaman yang dihadapi oleh banyak spesies. Diketahui bahwa orangutan adalah salah satu kerabat terdekat kita di dunia hewan dan memiliki hampir 95% DNA kita.

Di alam liar Kalimantan dan Sumatra, orangutan memiliki sangat sedikit predator alami. Ini karena mereka menghabiskan sebagian besar hidup mereka hidup di atas pohon, hanya sesekali bertualang ke permukaan tanah. Namun, jika orangutan menghabiskan terlalu banyak waktu di bumi, ia dihadapkan dengan ancaman dari macan tutul dan harimau.

Lalu, mengapa Orangutan adalah salah satu hewan paling terancam di planet ini?

Ini bukan predasi alami, yang mengarah pada fakta bahwa mereka menjadi salah satu spesies paling terancam di dunia, tetapi merupakan perambahan di pihak manusia. Kami bertanggung jawab atas penghancuran sekitar 80% habitat hutan hujan di Kalimantan dan Sumatra dalam 20 tahun terakhir saja. Para ahli konservasi memperkirakan bahwa pada tahun 2020, hampir 98% hutan hujan Indonesia dapat dihancurkan.

Ada beberapa penyebab kehancuran besar; Dalam beberapa tahun terakhir, Kalimantan dan Sumatra telah menjadi padat penduduk, dan populasi yang terus bertambah membutuhkan lebih banyak ruang untuk membangun rumah mereka. Hutan hujan menyediakan ruang ini karena habitat untuk hewan.

Selain itu, perdagangan hewan domestik pada orangutan sangat besar, dan banyak orang di Indonesia menganggapnya sebagai simbol status. Wanita dewasa sering terbunuh, sehingga anak-anak mereka dapat dijual di pasar gelap yang berkembang pesat.

Mungkin penyebab terbesar dari perusakan habitat berskala besar adalah keinginan dunia yang tak pernah puas akan minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit digunakan dalam berbagai makanan yang dikonsumsi manusia, dan seiring meningkatnya permintaan, ruang yang dibutuhkan untuk mengumpulkan minyak sawit juga meningkat. Saat ini, sekitar 6,5 juta hektar hutan hujan di Indonesia telah dibuka untuk membuka jalan bagi perkebunan ini.

Ketika habitat mereka dihancurkan, orangutan dipaksa masuk ke wilayah yang lebih kecil dan lebih kecil, memaksa mereka untuk terlibat konflik yang lebih besar dengan hewan lain, termasuk manusia. Ketika orangutan berkonflik dengan orang yang membawa senjata, hanya akan ada satu hasil.

Jika tindakan cepat tidak diambil untuk membalikkan tren penurunan jumlah orangutan, kami akan menghadapi kehilangan salah satu hewan favorit kami dalam waktu dekat, yang akan menjadi tragedi tidak hanya untuk konservasi di seluruh dunia, tetapi juga untuk ekosistem Indonesia yang rapuh di mana mereka hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *