Energi Berkelanjutan untuk Indonesia

Bangunan saat ini menyumbang 40% dari konsumsi energi primer global, dan mereka menyumbang sekitar sepertiga dari emisi CO2 global (24% menurut IEA, 2008; 33% menurut Price et al., 2006). Meskipun harga energi terus meningkat, terutama untuk minyak mentah, Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang stabil sekitar 5 persen setelah pulih dari krisis tahun 1999-2000. Semua pertumbuhan ini, tentu saja, disertai oleh peningkatan permintaan energi karena peningkatan jumlah rumah, pabrik, serta bangunan komersial dan industri. Jika kita mengasumsikan bahwa permintaan listrik akan tumbuh rata-rata 7% per tahun selama 30 tahun ke depan, maka konsumsi listrik akan meningkat secara signifikan, misalnya, di sektor rumah tangga, konsumsi akan meningkat dari 21,52 GWh pada tahun 2000 menjadi sekitar 444,53 GWh pada tahun 2030.

Ada empat sektor utama konsumen energi, yaitu: sektor rumah, komersial, industri, dan transportasi. Saat ini, konsumen energi terbesar adalah sektor industri dengan pangsa 44,2%. Konsumsi terbesar berikutnya adalah sektor transportasi dengan 40,6%, diikuti oleh sektor rumah tangga dengan 11,4% dan sektor komersial dengan 3,7%. Hingga saat ini, sumber energi utama adalah bahan bakar fosil: 46,9% – minyak, 26,4% – batubara dan 21,9% – gas alam. Tenaga air dan sumber energi terbarukan lainnya hanya sekitar 4,8% dari total sumber daya energi yang digunakan.

Efisiensi Energi vs. Penghematan Energi

Efisiensi energi adalah cara yang paling hemat biaya untuk mengurangi emisi karbon dan memperbaiki kondisi kehidupan rumah tangga dan perusahaan. Ini juga dapat memiliki banyak manfaat sosial, ekonomi, dan medis tambahan lainnya, seperti rumah yang lebih sehat, bahan bakar perusahaan yang lebih rendah dan biaya operasional, dan, secara tidak langsung, pekerjaan. Pilihan yang kami buat mengenai cara kami menggunakan mesin pelepas energi ketika kami tidak menggunakannya atau yang memilih untuk membeli peralatan hemat energi mempengaruhi lingkungan dan kehidupan kami. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menggunakan lebih sedikit energi dan menggunakannya dengan lebih bijak. Hal-hal ini termasuk penghematan energi dan efisiensi energi. Banyak orang berpikir bahwa istilah-istilah ini memiliki arti yang sama, tetapi mereka berbeda.

Konservasi energi adalah setiap perilaku yang menghasilkan lebih sedikit energi yang digunakan. Efisiensi energi adalah penggunaan teknologi yang membutuhkan lebih sedikit energi untuk melakukan fungsi yang sama. Lampu fluorescent ringkas yang mengonsumsi energi lebih sedikit daripada lampu pijar untuk menghasilkan jumlah cahaya yang sama adalah contoh efisiensi energi. Keputusan untuk mengganti bola lampu pijar dengan lampu neon kompak adalah contoh konservasi energi. Sebagai konsumen, pilihan dan tindakan energi kita dapat mengurangi jumlah energi yang digunakan di keempat sektor ekonomi; perumahan dan komersial, industri dan transportasi.

Penggunaan energi di rumah

Rumah tangga menggunakan sekitar 41 persen dari total energi yang dikonsumsi di Indonesia setiap tahun. Sistem pendingin mengkonsumsi lebih banyak energi daripada sistem lain di rumah kita. Biasanya, 43 persen dari rata-rata tagihan listrik rumah tangga dihabiskan untuk menjaga rumah pada suhu yang nyaman. Peningkatan hemat energi dapat membuat rumah lebih nyaman dan menghemat uang.

Salah satu perbaikan lokal yang dapat kami terapkan adalah lansekap. Meskipun tidak mungkin untuk mengendalikan cuaca, desain lansekap dapat mengurangi dampaknya terhadap konsumsi energi rumah. Dengan menempatkan pohon, semak, dan objek lanskap lainnya untuk menghalangi angin dan memberikan keteduhan, orang dapat mengurangi energi yang dibutuhkan untuk menjaga kenyamanan di rumah mereka di musim kemarau dan musim hujan. Lain adalah pilihan peralatan rumah tangga. Peralatan menyumbang sekitar 20 persen dari konsumsi energi rumah tangga normal, dengan kulkas, mesin cuci, dan pengering di bagian atas daftar. Saat membeli peralatan baru, ada baiknya memikirkan dua label harga. Yang pertama adalah harga beli. Tag harga kedua adalah biaya pengoperasian perangkat selama masa pakainya. Anda akan membayar tag harga kedua ini dalam tagihan utilitas setiap bulan selama 10-20 tahun mendatang, tergantung pada perangkat. Banyak peralatan hemat energi lebih mahal, tetapi mereka menghemat uang dengan lebih sedikit energi. Model hemat energi selalu merupakan kesepakatan terbaik selama masa pakai perangkat.

Konsumen Energi Bijaksana

Produk yang kami gunakan setiap hari mengkonsumsi banyak energi untuk produksi. Oleh karena itu, produsen harus menggunakan teknologi hemat energi dan langkah-langkah konservasi untuk menjadi sukses dalam bisnis. Sebagai konsumen, kami dapat membantu melindungi lingkungan dan menghemat uang, energi, dan sumber daya alam dengan mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang produk yang tidak lagi digunakan. Berikut adalah beberapa tindakan bermanfaat yang mudah dilakukan konsumen.

Beli hanya yang Anda butuhkan. Membeli lebih sedikit barang berarti lebih sedikit pemborosan. Ini juga menyebabkan lebih sedikit barang yang diproduksi dan lebih sedikit energi yang digunakan dalam proses produksi. Membeli produk dengan kemasan lebih sedikit juga mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dan jumlah energi yang digunakan.

Beli produk yang dapat digunakan kembali. Jika Anda membeli barang-barang yang dapat digunakan kembali, dan tidak sekali pakai, yang digunakan sekali dan dibuang, Anda akan menghemat sumber daya alam. Anda juga akan menghemat energi yang digunakan untuk memproduksinya dan mengurangi jumlah TPA yang dibutuhkan untuk pembuangan limbah.

Prioritaskan daur ulang semua bahan yang Anda bisa. Menggunakan bahan daur ulang hampir selalu mengkonsumsi lebih sedikit energi daripada menggunakan bahan baru. Daur ulang mengurangi kebutuhan energi untuk penambangan, pemrosesan, dan banyak proses manufaktur lainnya. Mendaur ulang satu pon baja menghemat energi yang cukup untuk menyalakan bola lampu 60 watt selama 26 jam. Mendaur ulang satu ton kaca menghemat setara dengan sembilan galon bahan bakar minyak. Daur ulang kaleng aluminium menghemat 95 persen energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan aluminium dari bauksit. Kertas daur ulang mengurangi konsumsi energi hingga setengahnya.

Keberlanjutan Energi

Efisiensi dan konservasi adalah komponen utama keberlanjutan energi. Konsep bahwa setiap generasi harus memenuhi kebutuhan energinya tanpa mengurangi kebutuhan energi generasi mendatang. Keberlanjutan energi berfokus pada strategi dan kebijakan energi jangka panjang yang menyediakan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini, dan juga besok. Pembangunan berkelanjutan juga mencakup investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi canggih untuk produksi sumber energi tradisional, promosi sumber energi alternatif dan promosi kebijakan lingkungan yang sehat. Kebutuhan akan transformasi mendalam dari energi global dan infrastruktur yang memakan energi, tentu saja, sudah diakui secara luas dalam konteks kekhawatiran yang berkembang tentang perubahan iklim global.

Dalam beberapa kasus, kemajuan teknologi yang mengurangi emisi polutan udara umum (seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida, hidrokarbon, dan partikel) dapat diharapkan juga mengurangi emisi gas rumah kaca. Beberapa polutan umum, seperti karbon hitam, berkontribusi langsung terhadap pemanasan. Dalam kasus ini, langkah-langkah pengendalian emisi konvensional dapat memberikan manfaat tambahan otomatis untuk iklim. Dalam kasus lain, hubungannya lebih kompleks: misalnya, partikel belerang sebenarnya memiliki efek pendinginan di atmosfer. Secara umum, sebagian besar teknologi kontrol polutan konvensional setelah pembakaran tidak mengurangi emisi karbon dioksida, gas rumah kaca utama.

Energi Terbarukan untuk Indonesia

Energi terbarukan saat ini merupakan bagian kecil dari portofolio listrik Indonesia. Sebagian besar energi terbarukan berasal dari tenaga air dan industri panas bumi, tetapi pertumbuhan kemungkinan terjadi di sektor lain. Anehnya, Indonesia terus mengimpor bahan bakar fosil untuk menutupi kekurangan manufaktur, daripada memanfaatkan sepenuhnya kapasitas energi terbarukan yang sudah terpasang. Memperluas produksi sumber daya yang ada (yaitu, stasiun panas bumi yang ada atau pembangkit listrik tenaga air) dapat menggantikan impor jenis bahan bakar fosil tertentu, mengurangi biaya subsidi energi dan menciptakan permintaan tambahan untuk teknologi dan pengetahuan di bidang sumber energi terbarukan. Keputusan Presiden No. 5 Indonesia mengatur peningkatan produksi energi terbarukan dari 7 menjadi 15 persen dari kapasitas pembangkit pada tahun 2025. Untuk mencapai tujuan ini, dalam 15 tahun ke depan perlu untuk membangun 6,7 GW kapasitas baru untuk penggunaan sumber energi terbarukan, berdasarkan perkiraan pertumbuhan saat ini. (Ibid.). Energi panas bumi dan biomassa ditargetkan untuk pertumbuhan terbesar, tetapi ada peluang di setiap teknologi energi terbarukan.

Pada bulan Desember 2003, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam mengumumkan kebijakan konservasi energi dan energi terbarukan yang merekomendasikan pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi di Indonesia dalam mendukung program pembangunan berkelanjutan. Sesuai dengan kebijakan energi hijau, energi terbarukan di Indonesia dibagi menjadi tiga jenis: (a) sudah dikembangkan secara komersial (biomassa, energi panas bumi, dan tenaga air); (B) sudah dikembangkan, tetapi masih terbatas (matahari, angin); dan (c) masih dalam penyelidikan (energi laut). Kebijakan energi hijau mendefinisikan langkah-langkah tindakan untuk mengembangkan kebijakan dan program yang lebih spesifik. Ini termasuk kebijakan untuk: (a) investasi dan pembiayaan; (b) insentif; (c) harga energi; (d) sumber daya manusia; (e) penyebaran informasi; (f) standardisasi dan sertifikasi; (g) penelitian dan pengembangan; dan (I) pengembangan kelembagaan.

Untuk kepulauan Indonesia, solusi energi sangat tergantung pada lokasi geografis dan sumber daya alamnya. Melalui implementasi berbagai kebijakan dan program, pemerintah meningkatkan kesadaran akan peran penting energi terbarukan dalam sistem energi berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia, dan melalui efisiensi energi akan membawa kesehatan, produktivitas, keamanan, kenyamanan dan penghematan pemilik rumah, serta manfaat lingkungan lokal dan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *