5 Hal Yang Harus Anda Ketahui Tentang Dayak – Bounty Hunters Borneo, Malaysia

Malaysia adalah negara eksotis yang menggabungkan bangunan modern dan kolonial, terjalin dengan industri teknologi tinggi dan budaya kuno. Akibatnya, tidak mengherankan bahwa Malaysia adalah salah satu dari 10 negara yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Salah satu hal yang paling menarik di Malaysia adalah manusia. Di sini kita melihat 5 hal yang harus Anda ketahui tentang Dayak, suku yang tinggal di Kalimantan dengan reputasi sebagai pemburu hadiah yang menakutkan.

1. Orang Dayak adalah pemburu hadiah dari Kalimantan

Orang Dayak dikenal karena perburuan karunianya, dan pada zaman kuno memiliki reputasi yang buruk sebagai suku yang berperang yang kuat dan sukses. Memisahkan rumah mereka, tinggal di rumah-rumah panjang yang dibangun di atas panggung, piala-piala utama disimpan di sebuah rumah panjang sebagai tanda keberanian dalam pertempuran dan membawa gengsi kepada prajurit yang menang.

Budaya pengayauan tidak lagi memiliki tempat di zaman kita, tetapi suku itu masih dikenal sebagai sangat teritorial. Pada tahun 2001, orang Dayak, yang dipersenjatai dengan tombak, parang, dan sangkakala, berkeliaran di kota perdagangan di provinsi Kalimantan Indonesia untuk mengusir seorang Indonesia yang bermigrasi yang, menurut mereka, telah mengambil pekerjaan dan tanahnya.

Dalam kurang dari satu minggu kekerasan, 200 migran terbunuh. Mereka ditebang dengan pedang tradisional Kalimantan atau ditembakkan dengan panah beracun dari pistol.

2. Budaya yang kaya

Orang Dayak animis (kebanyakan orang Kristen) mengamati upacara Kristen dan tradisional, terutama selama pernikahan atau liburan.

Festival penting termasuk Festival Panen Padi Sawah Hawaii, Festival Burung Burong Hawaii, dan Festival Antu Hawaii.

Selama festival, orang Dayak berkumpul untuk minum anggur beras yang disebut tuak dan melakukan tarian militer unik yang disebut ngajat (menggambarkan seseorang yang akan berperang, atau seekor burung yang terbang sebagai tanda penghormatan terhadap raja perang Ibana).

Pengunjung ke rumah panjang (atau kamar Panjang) biasanya diundang untuk menghadiri tarian, dan mereka berpartisipasi dalam upacara minum tuak dengan kepala rumah panjang sebagai tuannya.

3. Penyanyi-aktris Jessica Alba adalah seorang Dayak

Jessica memainkan Dayak dalam Kamus Tidur Guy Jenkin 2003. Difilmkan di Sarawak dan ditetapkan pada masa pemerintahan kolonial Inggris pada 1930-an, Jessica memainkan peran sebagai seorang wanita yang tidur dengan pemuda Inggris dan naif, John Truskott (diperankan oleh Hugh Dancy), yang pergi ke Kalimantan untuk mencoba menerapkan pekerjaan ayahnya di Iban masyarakat.

Kisah cinta dibangun berdasarkan konsep ngayap, yang merupakan cara pacaran yang dipraktikkan Ibana pada awal 1920-an dan 30-an. Jenkins menggabungkan cerita dengan kisah pemuda Inggris yang dikirim ke pos-pos di hutan dan “dilempar ke ujung yang dalam” ketika mereka harus belajar bahasa lokal dalam mode ekspres.

Film ini tidak pernah besar, tetapi memenangkan beberapa penghargaan DVDx, termasuk peran wanita terbaik Jessica Alba.

4. Pacaran perempuan di malam hari (ngayap)

Pacaran ngayap adalah ujian keberanian dan kedewasaan anak laki-laki, karena mereka harus melakukan perjalanan di malam hari melalui hutan, menyeberangi sungai atau rawa-rawa untuk sampai ke rumah panjang anak perempuan. Pacaran malam harus berlangsung tidak lebih dari 3 malam, dan pada akhir pacaran, anak laki-laki akan ditanya apakah dia serius menikahi seorang gadis.

Pacaran malam disepakati sebelumnya dengan gadis itu, dan itu tidak boleh mencakup lebih dari serangkaian percakapan sehingga kedua belah pihak saling mengenal.

Pada hari-hari perburuan hadiah, jenis perjalanan malam ini bisa sangat berisiko, karena mereka dapat jatuh pada sekelompok musuh perampok. Tetapi karena Dayak dikenal sebagai suku pejuang, pacaran malam hari diterima sebagai tanda keberanian seorang pemburu hadiah.

5. Dayak yang ditingkatkan

Orang Dayak saat ini harus lebih tenang dan ramah daripada mereka yang berada di era kolonial. Beberapa rumah panjang sekarang memiliki AC, lemari es, dan internet.

Hari-hari ketika pengayauan adalah norma sudah lama berlalu, dan meskipun menjadi tradisi, tato Dayak semakin menjadi simbol warisan dan budaya. Suku Dayak yang semakin urban berubah menjadi masa lalu yang habis, dan kerajinan kuno pembuatan kapal, tenun, menari, dan tato dengan cepat mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *